Ujian CAT: Antara Ambisi Manager dan Bug Sistem yang "Ajaib"
Persiapan Kecil Sebelum Berangkat
Pukul 06.30 WIB, saya berangkat menuju lokasi tes. Di tengah perjalanan, saya sempat mengunduh aplikasi musik modifikasi karena entah kenapa akun lama sering bermasalah dan minta ganti email. Untung ada Firefox Relay yang membantu. Sedikit ribet, tapi tidak apa-apa, yang penting ada musik sebagai penyemangat di jalan.
Sesampainya di lokasi, saya dipandu ke parkiran basement. Sempat menghela napas saat tahu tarif parkirnya Rp3.000 untuk motor di Jogja. Tapi ya sudahlah, saya parkir, melipat jaket ke dalam jok, dan melepas helm. Di sana, suasana sudah ramai. Banyak orang bersantai sambil menghisap rokok terakhir sebelum masuk ke ruang ujian.
Antusiasme tes kali ini memang luar biasa, karena ada peluang naik jabatan jadi Manajer. Namun, di balik semangat itu, ada keresahan yang membayangi. Di media sosial, banyak peserta mengeluh tentang bug sistem: jawaban yang sudah dipilih bisa berubah sendiri. Saya mencoba tetap optimis. Daripada tidak mencoba sama sekali, kan?
Strategi yang Buyar oleh Sapaan
Sambil menunggu jam menunjukkan pukul 07.00, saya duduk di area parkir dan menyalakan rokok. Di kepala, saya sedang menyusun strategi dan mengingat rumus-rumus yang sudah dipelajari. Tiba-tiba, pria di samping saya bertanya, "Saking pundi Mas?" (Dari mana Mas?).
Seketika, rumus-rumus di kepala buyar bertebaran. "Saya dari Bantul, Mas," jawab saya. Akhirnya kami malah asyik bertukar informasi dan mengobrol soal keresahan sistem yang bakal kami hadapi nanti.
Pukul 07.30, kami naik ke atas untuk menitipkan tas. Aturannya ketat: hanya boleh membawa pensil, KTP, dan kartu pendaftaran. Sabuk, HP, jam tangan, hingga perhiasan harus ditinggal. Saya sempat membatin, "Kalau otak bisa ditinggal, mungkin disapa panitia buat ditinggal juga ya? Haha."
"Goyang Inul" di Meja Ujian
Setelah mengantre yang sedikit amburadul karena banyak yang berebutan masuk, saya akhirnya duduk di barisan kursi yang ditentukan. Saya langsung memeriksa laptop, mouse, dan kamera. Sialnya, meja saya goyang-goyang mirip "goyang Inul". Sungguh tantangan fisik pertama sebelum ujian dimulai.
Panitia menjelaskan aturan main CAT. Ada pernyataan yang agak aneh: "Jika pilihan terlihat berubah, jangan khawatir karena sudah tersimpan di sistem." Pernyataan ini bukannya menenangkan, malah bikin saya makin was-was.
Jantung mulai berdegup kencang saat saya memasukkan NIK, PIN awal, dan PIN sesi. Pertarungan pun dimulai.
Melawan Bug dan Waktu
Awalnya semua berjalan lancar. Soalnya cukup mudah dan saya mengerjakannya dengan santai. Namun, drama dimulai di nomor 30. Saat saya menekan tombol simpan, soal tiba-tiba melompat ke nomor 34!
Lebih parah lagi, nomor 32 dan 33 sudah otomatis terisi (kotaknya berubah hijau). Panik? Tentu saja, ditambah meja yang bergoyang-goyang membuat emosiku semakin naik tinggi. Saat saya kembali ke nomor 30, jawaban yang tadinya A sudah berubah menjadi C. Sungguh luar biasa bug ini!
Saya harus memperbaiki satu-satu sambil berkejaran dengan waktu yang sangat mepet: 50 soal dalam 7 menit. Bayangkan, saya kehilangan hampir 2 menit hanya untuk mengurusi masalah sistem. Ini bukan cuma ujian CAT, tapi ujian kesabaran hidup. Di menit terakhir, saya terpaksa mengisi asal tanpa membaca karena loading yang lama. Hasilnya? Saya hanya mentok sampai nomor 46.
Akhir yang Menguras Emosi
Masuk ke sub-tes terakhir (20 soal dalam 20 menit), soalnya terasa sangat mudah. Saya selesai dalam 5 menit. Iseng, saya melakukan review ulang. Dan benar saja, di nomor 6, jawabannya berubah lagi jadi C. Saya perbaiki, lalu cek nomor-nomor lain yang saya curigai bermasalah (nomor 9 dan 15-20).
Memperbaiki bug ini saja sudah memakan waktu banyak. Saat waktu habis, saya hanya bisa pasrah apakah jawaban di nomor 20 tersimpan atau tidak. Begitu nilai terpampang di layar, saya hanya bisa menarik napas panjang. Lagi dan lagi, saya gagal. Skornya hanya beda tipis dengan ambang batas kelulusan.
Semua keluhan orang di media sosial tentang buruknya sistem ternyata benar adanya. Hari ini, kepercayaan diri saya benar-benar tertampar oleh teknis yang tidak beres.
Tips untuk teman-teman yang mau ujian CAT: Siapkan mental, bukan cuma buat soalnya, tapi buat menghadapi "keajaiban" sistemnya juga. Semangat!
Jangan lupa tinggalkan komentar ya!
Komentar
Tidak ada komentar: